Posted in

Pameran “AI-Generated Masterpiece” Diakui sebagai Karya Seni Orisinil: Apakah Konsep Kegeniusan Artistik Sudah Mati?

Pameran "AI-Generated Masterpiece" Diakui sebagai Karya Seni Orisinil: Apakah Konsep Kegeniusan Artistik Sudah Mati?

Karya Itu Dijual 1 Miliar. Tapi Yang Paling Berharga Bukan yang di Kanvas.

Kamu yang ngabisin tahun belajar gesture drawing, anatomy, teori warna… terus lihat berita: sebuah karya “AI-generated masterpiece” laku di lelang dengan harga gila. Langsung muncul pertanyaan yang bikin panas: “Apa gunanya kita susah payah, kalau mesin bisa bikin lebih cepat dan ‘sempurna’?”

Tenang dulu. Sebelum ngira konsep kegeniusan artistik sudah mati, coba kita tanya lagi: emangnya seni cuma soal keahlian tangan doang? Kalau cuma itu, printer mana yang paling genius?

Berita tentang pameran itu menarik bukan karena gambar AI-nya. Tapi karena sang “seniman” manusianya, sebut saja Rara, duduk di samping karyanya dengan portofolio tebal berisi 2000 prompt yang gagal, sketsa konsep awal, dan esai kuratorial tentang kenapa dia pilih hasil yang itu dari 10.000 kemungkinan lain. Dia nggak cuma pencet tombol. Dia kurator, sutradara, dan pemberi jiwa. Nilai itu yang dijual 1 miliar. Kejeniusannya bergeser, nggak hilang.

Kejeniusan Baru: Jadi Direktur, Bukan Kuli Teknis

  1. Kasus: “The Memory of a City That Never Was”.
    Seorang seniman digital senior, masukkan 10 ribu foto arsip kota Jakarta dari tahun 60-an sampai 90-an ke dalam model AI custom yang dia latih sendiri. Prompt-nya bukan “buatkan gambar kota tua”. Tapi puisi tentang kenangan bau asap rokok kretek di terminal, tekstur cat yang mengelupas di tembok, dan suara denting gelas teh botol. AI menghasilkan 800 gambar. Dia pilih 30. Lalu dia atur tata pamerannya seperti peta ingatan yang terfragmentasi. Nilai jualnya bukan pada tiap gambar, tapi pada konsep kuratorial yang kuat tentang memori kolektif yang artifisial. Kejeniusannya ada di riset, pelatihan model, dan pemilihan narasi.
  2. Proyek Kolaborasi Manusia-AI yang Transparan.
    Ada pameran yang justru pamerkan prosesnya. Satu dinding penuh dengan ratusan output AI yang “gagal” atau aneh. Dinding sebelahnya, sketsa tangan sang seniman yang berusaha menafsirkan dan “memperbaiki” kegagalan AI itu. Karyanya adalah dialog antara ketidaksempurnaan mesin dan interpretasi manusia. Di sini, keahlian teknis tangan jadi sangat berharga justru karena dipakai untuk merespon sang mesin. Pengunjung bisa lihat pikirannya bekerja. Ini membuktikan bahwa seniman yang punya skill tradisional kuat justru punya bahasa yang lebih kaya untuk berkolaborasi dengan AI.
  3. “AI as a rebellious brush” untuk Seniman Disabilitas.
    Bayangkan seniman dengan tremor di tangan, yang nggak bisa lagi memegang kuas dengan stabil. Dengan AI, dia bisa beri instruksi visual lewat gerakan mata atau suara. AI jadi kuasnya yang taat, tapi garis dan gayanya tetap berasal dari visi sang seniman. Di sini, AI bukan pengganti, tapi enabler. Kegeniusan artistiknya malah bersinar lebih terang karena berhasil mengatasi batasan fisik dengan alat baru.

Tapi Iya, Ada Bahayanya. Common Mistakes yang Bikin Ilmu Lu Ilang.

  • Menganggap Prompt Engineering adalah Segalanya: Kalau kamu cuma bisa nulis “cyberpunk girl, beautiful, intricate, trending on Artstation”, kamu cuma konsumen. Itu bukan seni. Itu pesan takeaway. Bedakan antara user dan creator.
  • Menyembunyikan Proses dan Berpura-pura 100% Manual: Ini bunuh diri kredibilitas. Publik sekarang melek. Ketahuan bohong, karirmu bisa hancur. Kejujuran dalam proses justru jadi nilai jual.
  • Berhenti Belajar Dasar-dasar Seni: “Ah, buat apa belajar komposisi atau teori warna, kan AI yang ngolah.” Salah besar. Tanpa dasar itu, kamu buta. Kamu nggak akan bisa menilai output AI mana yang bagus, mana yang cliché, mana yang punya kekuatan emosional. Kamu akan disetir sama selera rata-rata dataset.
  • Lupa bahwa Konteks adalah Raja: AI bisa bikin gambar cantik. Tapi AI nggak bisa kasih konteks kenapa gambar itu penting untuk dilihat sekarang, di sini. Hanya manusia yang bisa.

Jadi, Sebagai Seniman, Apa yang Harus Dilakukan?

  1. Perdalam Konsep dan Narasi: Kekuatan utama kamu bukan lagi di tangan, tapi di kepala. Apa yang ingin kamu sampaikan? Filosofi apa di balik karyamu? Itu yang nggak bisa dicuri mesin.
  2. Jadilah Spesialis yang Kolaboratif: Jangan cuma jadi “seniman digital”. Tapi jadi “seniman yang ahli dalam visualisasi data arkeologi” atau “spesialis tekstur dan material historis”. AI butuh pakar domain seperti kamu untuk bikin karya yang bermakna.
  3. Dokumentasikan Prosesmu Secara Obsesif: Simpan semua prompt, sketsa awal, iterasi, bahkan kegagalan. Itu adalah bukti kerja intelektualmu. Itu portofoliomu yang sesungguhnya di era baru ini.
  4. Lihat AI Sebagai Bahan Baku Baru, Bukan Pesaing: Seperti dulu seniman melihat fotografi. Awalnya dianggap ancaman, tapi akhirnya jadi medium baru yang melahirkan aliran seperti surrealism dan pop art. AI adalah fotografi versi digital.

Jadi, apa konsep kegeniusan artistik sudah mati? Sama sekali tidak. Dia cuma ganti baju. Dulu dia ada di otot dan keringat di studio. Sekarang, dia pindah ke ketajaman konsep, kekuatan kurasi, dan keberanian untuk berkolaborasi dengan “kecerdasan” lain.

Seniman yang bertahan bukan yang paling jago gambar tangan. Tapi yang paling jago berpikir. Yang bisa jadi direktur kreatif bagi kecerdasannya sendiri, dan kecerdasan buatan yang dia pinjam. Itu justru lebih sulit, dan lebih menarik.

Masih mau bilang mesin bisa gantikan seniman?